Quantcast

Senin, 21 Mei 2012

Perihal Do'a yang Tak Sampai


Setiap inci dari rambutmu menebarkan aroma hasrat yang tak ada duanya. Seperti di pendaringan ini, setelah air sejuk membasahi tubuh sintalmu, kau kibaskan mahkotamu itu yang menyegerakan aku bangkit dari kedataran yang menjemukan. Seketika, pemandangan yang menciptakan rangsangan ini mencuatkan aku sejadi-jadinya.

"Ah.. jablay... aku ingin menusukmu..." Erangku tak tahan.

Singkat kata, kami pun bergelut dalam nada nada nafsu dan dosa. Kurentangkan kakinya berhimpitan dengan pinggul depan kelelakian-ku. Kuhujani kemaluannya bertubi dan bertubi. Entah aku atau dirinya yang membawa.... Membawa dalam situasi ternikmat dalam kehidupan yang fana ini. Tuhan benar-benar Maha Sempurna nan Maha Hebat! Tuhan telah menciptakan sebuah rasa yang sekiranya jika kulukiskan dalam kata akan memanjang sampai alinia terakhir.

Setelah pergumulan biru itu. Kami segera membersihkan diri dengan menceburkan dalam kolam renang bebentuk jajaran ginjang dengan ornamen latar strip bergelombang  hitam satu dan aneka polkadot warna hijau laut. Setelahnya, tanpa berhanduk kami menyinggahi meja makan yang telah terhidang susu dan roti.

Kulihat wajah jablay-ku sangat berseri-seri, saat ini dengan buas menyantap roti putih selai coklat dengan kaki mulusnya terangkat satu di kursi. Sesekali kerlingan matanya merayu-rayuku dengan genit. Ahh.... ingin rasanya kubantai sekali lagi perempuan ini!

Setelah semuanya usai. Petang lusa aku punya janji baru dengan si Maya.

Hari yang ditunggu telah tiba. Aku menggandeng jemari si Maya erat. Kami memasuki ruang kamar yang lalu pernah ku gagahi dengan mesra. Hari ini menu ku baru. Hari ini menu ku si Maya.

Kucumbui tubuh Maya dengan erangan nafas yang panjang. Diawal, Maya menggelinjang tangannya meraih kesana dan kesini seakan mencari pegangan. Mulutnya menganga bersamaan dengan kemaluannya yang menganga. Yak. Saat inilah yang tepat. Dengan perlahan kumasuki kemaluannya.... dan... Ahh desah Maya.

Namun sejurus kemudian. Semuanya berubah! Maya seakan tak asik. Entah mengapa aku tak tahu. Kupaksakan untuk tetap menjaga rasa ini agar tak keluar jauh dari koridor nikmat, namun semuanya sia-sia. Malam ini Maya benar-benar tak nikmat bagiku!

Wajahnya berubah menjadi sedih, dan selang beberapa detik... tangisnya pecah membanjiri malam ini. Ahh! Ada apa ini? kubangkitkan tubuh Maya di sisi pendaringan, kuraih pundaknya dan kuserang seketika dengan hujaman pertanyaan.

"Mengapa Maya??" tanyaku.

"Semalam, kemarin malam dan kemarin malamnya lagi aku berdo'a. Aku mencoba berdo'a kepada Tuhan-ku untuk mengangkat derajatku.! Hahh! Sumpah demi ibuku yang sakit keras di kampung, Aku tidak ingin terus dan terus menjadi pelacur!" Jawab Maya.

Aku tersungkur kebelakang dan terdiam. 3 Menit setelah itu kembali kuhampiri Mayaku yang kacau ini. Kukecup dahinya dan bibirnya yang manis. Kubaringkan tubuh moleknya, lalu kuselimuti dengan bad-cover beludru merah jambon yang hangat. Malam itu kami-pun tertidur.  

terselubungcelanadalam - Mei 2012

0 komentar:

Posting Komentar