Quantcast

Rabu, 30 Mei 2012


Tidak jenius tapi ini yang paling realistis untuk Indonesia. He he, berita aktual nih gan... barusan (sepersekian detik) gueh terbangun dari tidur sesaat ini dan melihat siaran langsung di televisi yang menayangkan Pidato Presiden Republik Indonesia, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono yang berbicara ngalor ngidul, resesi hingga krisis.

Gueh jadi teringat sosok Kofi Annan yang kala itu berbicara lantang sambil mengacungkan jari telunjuknya di hadapan para anggota PBB seraya berkoar lantang tentang: resesi dunia belum berakhir lengkap dengan setelan jas hitamnya yang elegan. 

Kali ini, seraya tidak mau ketinggalan dengan gaya Annan, SBY-pun ikut berbicara mengenai dunia lengkap dengan resesinya, namun yang berbeda kali ini beliau tidak mengenakan jas melainkan batik solo, pakaian kebanggaan anak bangsa. 

He he... jelas dong. Memakai batik selain mencerminkan akan budaya Indonesia ini juga akan selaras dengan salah satu kebijakan nasional yang akan beliau kemukakan sendiri bersamaan dengan pidato nasional-nya hari ini, yakni Penghematan penggunaan listrik dll, sebuah kebijakan yang pernah sukses di Indonesia pada tahun 2008/2009 lampau, kala dunia serta Indonesia sendiri persis sedang menghadapi krisis global seperti saat ini. Lho, lalu apa hubungannya jas, batik dan hemat listrik ?? Yak iyah lah yau... memakai batik tidak akan meyebabkan badan kegerahan, sehingga pemakaian AC (pendingin ruangan, red) bisa diatur sedemikian rupa agar tidak boros. He' Tidak jenius tapi ini yang paling realistis untuk Indonesia.

Berbicara mengenai realistis bagi gueh terkesan ada rasa seperti 'pasrah' menyelimuti kuat pada frasa itu. Tidak usah bersedih-lhah sob, tidak semuanya pasrah itu  tidak kuat. Tidak selamanya pasrah itu 'gak punya nyali!. Pada kesempatan ini, SBY sendiri memang sudah mengisyaratkan bahwa kebijakan ini adalah bentuk dari jawaban terbaik untuk Indonesia saat ini. Ini yang kita punya dan ini yang kita bisa, kurang lebih seperti itu yang gueh tangkap dari ocehannya pak Beye tadi.

Beberapa kebijakan nasional ini memang bertele-tele, penuh liku dan gelombang-gelombang (he he, gelombang radio apa gelombang ombak yak ?). Namun gueh sadar, meskipun seperti itu gueh yakin ini memang yang terbaik untuk Indonesia. 

Ada satu cacatan gueh mengenai ini semua. SBY terang-terangan mulai hari ini dan akan berlangsung sampai dikehidupan yang akan datang, bahwa akan meninggalkan semua perkakas (transportasi, alat kebutuhan rumah tangga dll) yang menggunakan BBM (bahan bakar minyak) bahkan telah menginstruksikan kepada pihak-pihak yang terkait untuk segera meninggalkan 'segala hal' yang berbahan bakar BBM. Namun beliau lupa bahwa di tempat-tempat (pabrik atau pertambangan) pembuatan mobil hybrid, pengelolaan pembangkit-pembangkit listrik atau tempat pertambangan gas / gas bumi nasional itu sendiri di Indonesia hampir semuanya masih menngunakan BBM. Hmm, lalu bagaimana cara agar benar-benar bisa 'Say God Bye' akan BBM ini benar-benar 100% bisa terwujud yak ? Gubrakss.

Ringkasnya, gini aja deh sob... Sebagai warga negara (masyarakat) yang baik sudah sepatutnya kita mendukung apa yang telah diperintahkan pimpinan kita. Tak perlu kita iri dengki, keki atau kejang-kejang terhadap sebagian anggota dewan yang hidup bermewah-mewahan ( 100% boros, red). Biarlah kita sebagai 'abde dalam' yang puasa akan kesenangan-kesenangan  ini. He he. 

Berikut 5 Kebijakan Nasional, yang berlaku mulai hari hingga ajal menjemput:

1.Pengendalian sistem distribusi di setiap SPBU.
2.Pelarangan BBM bersubsidi untuk kendaraan pemerintah, baik pusat maupun daerah, juga untuk BUMN dan BUMD.
3.Pelarangan BBM bersubsidi untuk kendaraan perkebunan dan pertambangan. Pelarangan ini juga dilakukan dengan menerapkan sistem stiker.
4.Konversi BBM ke Bahan Bakar Gas (BBG) untuk transportasi
5.Penghematan penggunaan listrik dan air.

terselubungcelanadalam dan rakyat jelata, langsung dari Istana Negara (Jakarta, (29/5)

SEKIAN

0 komentar:

Posting Komentar