Quantcast

Sabtu, 14 April 2012

Surga tahu aku tidak begitu sempurna. Aku tidak mempesona. Tapi tunggu dulu nona, biarlah tuhan-mu mendengar cerita-ku. Hai!, lebih baik aku memiliki mata yang tak dapat melihat, telinga yang tak dapat mendengar, bibir yang tak dapat berbicara, dari pada hati yang tak dapat mencintai.


Nona pelacur satu dan pelacur binal. Ketahuilah aku tidak menyukai orang-orang yang munafik. Maka dari itu, jika kelak 'waktu' melahirkan anak-anak nakalku, maka aku mengharamkan mereka menjadi orang-orang munafik.

Berangkat dari paragraf ke dua ini, maka ku teguhkan. Aku menulis ini untuk menari di atas benak orang-orang yang munafik. 

Entah senja entah petang, namun yang kupandang mendung begitu menggulung di langit yang ungu. Semenit kemudian. Aku sedang bersembunyi di dalam kamar mandi yang kelam. Terpojok di sudut marmer pualam, payudara pelacur satu terbuka lebar dengan puting merah jambu yang kian mencuat. Dirinya kudapati setengah nongkrong hampir klimaks.

Kuhampiri dengan hati-hati, kutakut menghancurkan reaksi fun-nya. Matanya sipit memandangku, menjadi sayu ketika ku hampiri. "Ahh... Apakah aku merusak acaramu?" tanyaku. Dia menggeleng.

Bibir merah maronnya menerima kecupan nafsuku. Ohh dalam hati ku berjanji, malam ini akan ku antarkan jiwamu melayang ke lembah basah-basahi, yang penuh gemintang biru dan orange. Ku lumat halus bibir sampai leher jenjangnya. Nafasku memburu sedangkan nafasnya menjadi tersengal. Ahh... dia menjerit histeris kenikmatan, takala bibirku menuruni bagian leher bawahnya.

Kupermainkan puting payudaranya dengan ujung lidahku, sesekali ku gigit gemas kedua-nya bergantian. Jemarinya mencengkram erat pundak-ku, sedangkan lainnya menjambak kuat rambut gondrongku.

Braakkk.... 

Pintu kamar mandi kelamku terbuka dengan paksa dari luar. Sejurus kemudian. Dan masuklah seorang wanita binal tanpa sehelai benang-pun menghampiri-ku dengan sosok pelacur satuku.

Oahh... Aku sangat kaget!! Aku fikir dia istriku! jantungku hampir saja copot!!!
"Hmm... terimakasih tuhan yang agung, kali ini memang bukanlah waktu yang tepat untuk meng-azab-ku". batinku.


0 komentar:

Posting Komentar