Quantcast

Selasa, 20 Maret 2012

Sobat--karena ini luar biasa tak bisa di urai lewat nyata mimik wajah, sebab  kita semua bernapas dalam dunia maya. Mari kita mulai dengan cerita ini,


Di suatu saat, ketika aku dan dia melangkah dengan pelan-pelan di antara tubuh yang bergelimpangan, kukenali laki-laki yang tadi naik ke atas bis kota--penderita Aids yang menyentuh rambut gondrongku--berbaring tak bergerak di tanah. Aku berhenti dan menatapnya lebih dekat lagi. Dengan matanya yang terpejam, dia tampak menyatu dengan tanah di bawah tubuhnya. Kemudian, dengan terkejut aku baru sadar bahwa dia sudah meninggal. Kurasakan sentakan pilu menerpaku; kalau saja aku dan dia menemukannya lebih awal. Sambil memanjatkan Al Fatihah tanpa suara, kupalingkan wajahku dan bergegas menghampiri Si tukang Senyum, yang sudah berlutut di samping seorang anak kecil yang mulai bersenandung.

Aku, dia dan Si Tukang Senyum berbicara sebentar-sebentar sepanjang hari itu. Ada kalanya aku begitu hanyut terseret-seret oleh keadaan di sekitarku sehingga mulai menangis. Biasanya dia tidak menghiraukan air mataku, tetapi suatu kali dia berkata "Kami punya alasan untuk menangis, tapi kami tidak menangis. Kau tidak punya alasan untuk menangis. Jadi mengapa kau menangis?" Kalimat itu diucapkan dengan halus, tetapi dengan ketegasan seorang Bapak. Itu adalah caranya memintaku untuk berperan sebagai pemimpin, seakan-akan berkata, "Kuasai dirimu. Mari kita lakukan apa yang bisa kita lakukan."

Hujan akhirnya sirna. Supir bus berteriak dan para penumpang mulai kembali ke bus. Kuucapkan salam kepada Si Tukang Senyum dan kembali ke tempat duduk-ku. Saat duduk, menunggu bus berangkat, aku tahu bahwa aku mungkin tidak akan pernah lagi bertemu dengannya. Tetap saja kala ini dia menjadi pahlawanku. Kukagumi kebajikannya dan keikhlasannya. Kuucapkan ikrar tanpa suara, Tuhan aku ingin taubat......

Perkenalkan sebelumnya, Si Tukang Senyum itu, menatapku. Penampilannya acak kadut--bajunya compang-camping, tubuhnya kurus kering, berkaki telanjang--hanya saja tua bangka ini selalu tersenyum lebar.

Sobat. Apa yang dapat kita petik dari ini semua? Ketahuilah kala itu aku sedang galau, memikirkan dosa ini yang terus saja bertambah. Diriku saat itu didapatinya sedang murung. Beliau menghiburku dengan tampilannya yang selalu tersenyum itu... 

Ahh... Si Tukang senyum menunjukkan kepadaku bahwa memberikan cinta kepada orang lain tidaklah rumit ataupun sulit. Aku sudah menyaksikannya dengan mata kepalaku sendiri bahwa senyuman yang bisa kita berikan--itu sudah cukup.

Thx gan!

5 komentar:

obat herbal kolesterol mengatakan... ( Reply)

tanpa kita sadari dengan senyuman pun oranglain bisa bangkit kembali dari keterpurukan nya ..
mari kita tersenyum ha ha ..

obat herbal penyakit tipes mengatakan... ( Reply)

judul sama artikel nya ga nyambung bertentangan ..
he..
tapi lucu juga artikelnya mah

obat herbal darah tinggi mengatakan... ( Reply)

tersenyumlah dengan ikhlas .. senyum adalah ibadah yang tanpa kita sadari ..

obat herbal nyeri sendi mengatakan... ( Reply)

tersenyum lah .. karena dengan satu senyuman kita bisa menghidupkan membangkitkan menumbuhkan semangat kepada orang lain ..

jarang di genjot mengatakan... ( Reply)

@obat herbal kolesterol, @obat herbal penyakit tipes, @obat herbal darah tinggi, @obat herbal nyeri sendi he he... mantafe pak... mantafe...
tersenyumlah dengan ikhlas .. senyum adalah ibadah yang tanpa kita sadari ..
tersenyum lah .. karena dengan satu senyuman kita bisa menghidupkan membangkitkan menumbuhkan semangat kepada orang lain ..
wow... benar2 mantafe brotherr, sangat menggugah selera hi hi

Posting Komentar