Quantcast

Minggu, 08 April 2012

Pendidikan dan Kebudayaan - Part1

Gueh menyaksikan sebuah perjalanan ini, yakni; kembalinya "kebudayaan" pada Kementerian Pendidikan Nasional telah menegaskan lagi bahwa pendidikan adalah jalan utama kebudayaan.

Dan memang sudah seharusnya melalui pendidikan, seseorang mengalami proses pembudayaan dan lewat pendidikan pula sebuah bangsa mewujudkan kebudayaan seperti yang diinginkannya.

Disebut kebudayaan yang diinginkan karena kebudayaan bukan sekedar koleksi artefak dan tradisi untuk dilestarikan. Lebih dari itu, kebudayaan adalah respons manusia terhadap berbagai  tantangan, kemudian 'memberi' wujud baru pada pola-pola yang ada.

Pendidikan sebagai jalan kebudayaan tidak bearti bahwa dalam kurikulum persekolahan hadir mata pelajaran kebudayaan; atau pada nama lembaga pendidikan tertentu harus tercantum kata budaya/kebudayaan. Eksistensi pendidikan dalam keseluruhannya adalah, dan harus dirancang sebagai, proses pembudayaan. Dengan demikian, pendidikan niscaya merupakan bagian dari strategis pembangunan kebudayaan bangsa.

Meski konsep kebudayaan nasional begitu terang, menyaksikan situasi kebangsaan kita dewasa ini dengan berbagai kecenderungan masa depan yang ada, penyelengaraan sistem pendidikan nasional harus difungsikan pertama-tama sebagai upaya penyadaran tentang status manusia: mahluk berkebudayaan.

Sejak lama berbagai agama mengajarkan bahwa manusia adalah mulia, bahkan manusia dianggap sebagai wakil/citra Tuhan di muka bumi (khalifah fil ardl). Pada diri manusia terdapat banyak potensi-di antaranya akal dan kehendak bebas (free will). yang sejatinya hanya milik Tuhan-yang memungkinkannya membentuk kebudayaan dan karena itu ia berbeda dengan mahluk yang lain.

Tidak seperti tumbuhan dan hewan, kehadiran manusia di dunia ini bukan untuk sekedar bertahan hidup dan beradaptasi dengan lingkungannya agar sesuai dengan kebutuhan dan martabat dirinya. Maka, manusia pun mencipta.

Karya menentukan muruah manusia. Apakah ia berkontribusi merawat dan memuliakan kehiduapan atau sebaliknya merusak dan menghancurkannya.

Apabila dia memilih peran destruktif, kemanusiaanya akan jatuh ke derajat yang lebih rendah dari pada kawanan hewan karena daya-daya yang dimiliki manusia dapat melahirkan kejahatan yang bersifat kreatif.

Para pelajar perlu disadarkan bahwa menjadi manusia artinya beramal, yaitu berkarya untuk kemaslahatan bersama.

Kedua, pendidikan sebagai proses pembudayaan harus menumbuhkan identitas nasional. Substansi dari identitas nasional adalah jawaban atas pertanyaan tentang siapa kita sebagai orang dang bangsa Indonesia serta apa yang membedakannya dengan "dia" atau "mereka" yang lain, yang bukan Indonesia.

-To Be Continued-
Jakarta-8 April-2012

0 komentar:

Posting Komentar