Quantcast

Minggu, 19 Februari 2012

Morning on the River Wulan

Pagi di Sungai Wulan 
Puluhan perempuan tampa alas kaki berjalan pelan menyusuri jalan setapak berlempung yang licin, mendekati sebuah perahu di tepian Sungai Wulan,


Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Pagi itu, mereka mengawali rutinitas bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik rokok. Mereka berjalan dengan menancapkan jempol kaki ke dalam tanah lempung agar tidak terpeleset saat mendekati bibir sungai. Sementara itu, sejumlah perempuan lain mendekap tas dan barang bawaan dengan tangan kanan, sedangkan tangan kiri menenteng sandal, berjalan hati-hati, agar tidak masuk ke dalam lumpur sisa banjir.

Di bawah langit yang mulai membiru sekitar pukul 05.00, antrean mulai memanjang, menunggu perahu yang akan menyebrangkan mereka ke Desa Setrokalangan, kecamatan Kaliwunggu, Kabupaten Kudus.

Perahu tersebut menjadi jembatan untuk menyingkat waktu perjalanan dan menekan ongkos transportasi dari rumah ke tempat kerja mereka daripada harus memutar lebih jauh. Dengan ongkos Rp. 500 per kepala, setiap pagi dan siang para perempuan ini berdiri berdesakan di atas perahu hingga mencapai 40 orang. (Hmm jadi ingat anak-anak sekolah yang nasibnya sama persis, namun lebih miris, Berangkat ke Sekolah Menjemput Maut).

Tidak adanya fasilitas keselamatan, toh tidak menciutkan nyali para perempuan ini. Mereka tetap tersenyum dan bercanda satu sama lain di atas perahu yang menyeberangi Sungai Wulan yang saat itu sedang berarus deras.


Seperti Suparti (34) yang tetap tanpa takut walaupun tak bisa berenang . " Lha, ini yang paling murah dan ngirit meski saya gak bisa renang." Katanya. Tibanya musim hujan seperti pada akhir November lalu menjadi hal yang merepotkan bagi ratusan buruh tersebut saat berangkat kerja.

Bagi Murdi (45), pengelola perahu, keberadaan para buruh yang mencapai 350 orang yang selalu menggunakan jasanya, menjadi lahan penghasilan tetap selain sebagai buruh tani. Murdi mengatakan, usaha jasa penyebrangannya telah turun-temurun selama puluhan tahun.


 

"Dulu yang naik simbahnya, sekarang cucu-cucunya yang gantian kerja," kata Murdi. Mereka mengakhiri perjalanan dengan dengan membersihkan kaki dan sendal sebelum melanjutkan dengan angkutan bak terbuka yang telah yang telah menunggu. Rutinitas yang telah berlangsung selama beberapa generasi ini tak bisa dilepaskan dengan sejarah industri rokok di kota kudus.


This is a piece of the story in this month, to Indonesia Raya. I was kidnapped from the daily edition of the Kompas -  Sunday, January 22, 2012, nomerik beautiful stained-ever in an old song title. Especially for you women.

0 komentar:

Posting Komentar