Selasa, 14 Februari 2012

Dapatkah Kutepiskan Perasan Ini?

Aku sedang di kamar mandi di lantai atas sebuah rumah rombeng di pinggiran Jakarta yang keberadaannya hampir sejajar dari lokalisasi ala kadarnya. 


Saat itu bulan November yang dingin, sekitar jam 3 subuh. Istriku sedang lelap tidur di tempat tidur kami. Aku sedang asik bersembunyi di kamar mandi kira-kira selama 25 malam berturut-turut, dan sama seperti malam-malam sebelumnya aku bebas merangsang sahwat ini dengan imaginasi sosok Sandra.

Jika teringat akan pudarnya cintaku pada-nya, Sungguh aku tidak ingin mempertahankan perkawinan ini lagi! Dinda maafkan aku, aku sudah menemanimu selama hampir 32 tahun! tidak lebih dan tidak kurang!. Aku tidak ingin terjungkal dan lengser keprabron.

Ku Akui cinta ini sudah tidak ada.  Apakah dinda ingin memaksa lagi ?

Perjalanan hidup yang kita lalui tidaklah seperti yang kamu dan aku inginkan. Hidup ini ternyata terlalu getir untuk dinukilkan. Namun aku masih mengingat kala kamu memasakkan dan menyetrika baju ini. Lalu aku pergi ke kantor untuk menemui Amanda.

Yak. Perasaan sayang kamu untuk-ku, katamu tidak akan pernah berakhir. Sangat tepat. Sungguh aku merasakan itu di setiap nafasmu. Namun kini soal lain dinda. Ini soal selera. Kini seleraku telah berputar arah. Sungguh aku lebih bernafsu dengan yang ber-bulu lebat.

Aku termenung sesaat. Fase ini berawal dari ketidakpuasan. Dan tidak semestinya harus berangsur-angsur menjalar dan menyeluruh. Ahh.. Daripada berusaha memutuskan apakah prinsip ini benar atau salah, ada baiknya kubasuh saja dahulu tubuh berkeringat ini dengan air yang dingin ini.

Byurr….. Ahh… shower buatan ini membasahi kepalaku. Kuresapi kenyamanannya seolah menepuk punuk otak-ku. Sudut pandang ini tidaklah mencerminkan lekaki dewasa yang sejatinya adalah pemimpin. Maka dari itu cerita ini akan bersambung… dan,

Sayup-sayup kudengar suara Adzan subuh berkumandang…

0 komentar:

Posting Komentar