Aku sedang di kamar mandi di
lantai atas sebuah rumah rombeng di pinggiran Jakarta yang keberadaannya hampir sejajar dari lokalisasi ala kadarnya.
Saat itu bulan November yang dingin, sekitar
jam 3 subuh. Istriku sedang lelap tidur di tempat tidur kami. Aku sedang asik
bersembunyi di kamar mandi kira-kira selama 25 malam berturut-turut, dan sama
seperti malam-malam sebelumnya aku bebas merangsang sahwat ini dengan imaginasi
sosok Sandra.
Jika teringat akan pudarnya
cintaku pada-nya, Sungguh aku tidak ingin
mempertahankan perkawinan ini lagi! Dinda maafkan aku, aku sudah menemanimu
selama hampir 32 tahun! tidak lebih dan tidak kurang!. Aku tidak ingin
terjungkal dan lengser keprabron.
Ku Akui cinta ini sudah tidak
ada. Apakah dinda ingin memaksa lagi ?
Perjalanan hidup yang kita lalui
tidaklah seperti yang kamu dan aku inginkan. Hidup ini ternyata terlalu getir
untuk dinukilkan. Namun aku masih mengingat kala kamu memasakkan dan menyetrika
baju ini. Lalu aku pergi ke kantor untuk menemui Amanda.
Yak. Perasaan sayang kamu untuk-ku,
katamu tidak akan pernah berakhir. Sangat tepat. Sungguh aku merasakan itu di
setiap nafasmu. Namun kini soal lain dinda. Ini soal selera. Kini seleraku
telah berputar arah. Sungguh aku lebih bernafsu dengan yang ber-bulu lebat.
Aku termenung sesaat. Fase ini
berawal dari ketidakpuasan. Dan tidak semestinya harus berangsur-angsur
menjalar dan menyeluruh. Ahh.. Daripada berusaha memutuskan apakah prinsip ini
benar atau salah, ada baiknya kubasuh saja dahulu tubuh berkeringat ini dengan
air yang dingin ini.
Byurr….. Ahh… shower buatan ini
membasahi kepalaku. Kuresapi kenyamanannya seolah menepuk punuk otak-ku. Sudut
pandang ini tidaklah mencerminkan lekaki dewasa yang sejatinya adalah pemimpin.
Maka dari itu cerita ini akan bersambung… dan,
Sayup-sayup kudengar suara Adzan
subuh berkumandang…
RSS Feed
Twitter










0 komentar:
Poskan Komentar