Kamis, 05 Januari 2012

Tembak di Dalam

Ah. Dahulu itu percintaanku dengan pelacur yang tidak hina dan dina. Kini, perselingkuhanku  dengan Tuhan, suara di dalam hatiku, adalah hubungan yang paling utama kedua di dalam hidupku. 

Dan cara yang kutempuh untuk menghormati hubungan itu adalah dengan menjaga agar hidupku  setenang mungkin, agar aku dapat mendengar redho itu. 
Akan tetapi, tetap saja, ini bukan bearti bahwa diriku selalu diselimuti kebahagiaan. Maka dari itu, Aku begitu menyadari dan sangat menerima, bahwasanya ini hanya sekuel dari hubungan yang paling utama dalam hari yang penuh warna cerah, pastel, abu abu serta gelap pekat ini.
Yoi, soy, kini kita masuk pada gerbong utama dimana aku menakodai perahu itu tampa berjalan diatas rel yang pangjang sekaliiiiii. 

Berawal di tengah kehidupanku di saat ritmenya kocar-kacir . Alih-alih aku ikhlas menerima aral cobaan yang kuhadapi, pada nyatanya setiap aku menemukan pojokan yang sunyi sepi aku selalu bermunajat pada Tuhan-ku. Yang artinya 

“ Apa persisnya yang harus kulakukan yang sampai kini masih belum kumengerti? Lebarkanlah mataku agar aku dapat melihat bagai-mana seharusnya aku menggunakan ini.”
 
Pada alinia pertama tersirat,  Ah. Dahulu itu percintaanku dengan pelacur yang tidak hina dan dina. Kini, perselingkuhanku  dengan Tuhan. Namun selengkapnya adalah, Ah. Dahulu itu percintaanku dengan pelacur yang tidak hina dan dina. Kini, perselingkuhanku  dengan Tuhan, dan terakhiri dengan pelacur lagi.

Aku terduduk tidak lemah dihadapan Arkin. Ranjang reot penuh dosa itu bergemerisik citttt cit saat bokongnya terangkat, petanda sosoknya sedang condong kearahku. Tidak sampai doyong sangat dan terjerembab dia berbisik ditelingaku.

“Berkenankah engkau menunjukkan apa yang seharusnya kulakukan saat ini?.”

“Mengapa?”,  kataku.

“Aku selalu mempunyai anggapan bahwa ada sesuatu yang seharusnya kulakukan atau kupahami, sekalipun saat itu aku belum dapat melihatnya, disaat melihatmu seperti ini.”
 

Begitu ungkapnya, sebuah ungkapan  yang  frasanya sangat menempatkanku sebagai lelaki sejati, sebuah kata yang padanannya sulit kudapatkan. Sungguh efeknya begitu canggih. Dan itulah fakta dari semua ini,  tak-kan mudah menenggelamkan sosok Arkin-ku.

Kucium bibirnya dengan cinta dan hasrat, kuucap kata lirih sedikit demi sedikit.
“Tuhan maha cerdas, maka ketahuilah, aku tidak memanjatkan do’a sebagai ratapan, namun sebagai pertanyaan”

Kembali kucium bibirnya, “bolehkah aku menembaknya di dalam”. Kataku
Arkin-ku tersenyum genit dan mengangguk.

Selesaiiii
Oleh ; terselubungcelanadalam



0 komentar:

Poskan Komentar