Quantcast

Sabtu, 21 Januari 2012

Syahrir

Dari konsonan yang membentuk namanya jelas beliau adalah putra kelahiran Sumatera Barat, tepatnya Padang Panjang , 15 Maret 1909. Pada zamannya, Dialah ujung tombak dari negara Indonesia di mata dunia Internasional yang begitu global.

Beruntung dia lahir dari keluarga yang kaya raya, sehingga di kala pendidikan saat itu masih feodal dia keluar dan melewatinya hingga menjadi cerdas luar biasa! Tuhan pro-Syahrir, dia adalah rakyat yang sanggup membeli semua itu.

Tuhan tidak salah memilih dia, karena beliaulah yang mengajarkan teman-temannya dari keluarga yang tidak mampu sehingga ikut menjadi cerdas. Istilah dalam frasa hindia belanda saat itu adalah  Tjahja Volksuniversiteit, yaitu pembelajaran gratis bagi yang buta huruf !

Betulkan Tuhan tidak salah?

Memang tidak salah!, faktanya dia sanggup memaksa mata dunia Internasional untuk tidak berkedip bila menatap Indonesia! Uyyehh... hihihi. Okeh, gan dilanjut....

Syahrir
Sejalan dengan berjalannya kehidupan ini, Syahrir banyak menemukan buah pemikiran yang fenomenal bagi terus berkembangya negara tercinta Indonesia ini. Walau terkenang lahir dari sejarah yang mengukir bahwa dirinya adalah kaya raya, namun dia berfaham Marx-Engels yang berhaluan kiri sehingga dalam kehidupan sehari-harinya dia sangat dekat dengan rakyat jelata! Sosialis Freedom, hihii iii... gituh kalii yee bro...

Ini fakta! Demi lebih mengenal dunia proletar dan organisasi pergerakannya, Syahrir pun bekerja pada Sekretariat Federasi Buruh Transportasi Internasional.

Dalam tulisan kenangannya, Salomon Tas berkisah perihal Syahrir yang mencari teman-teman radikal, berkelana kian jauh ke kiri, hingga ke kalangan anarkis yang mengharamkan segala hal berbau kapitalisme dengan bertahan hidup secara kolektif – saling berbagi satu sama lain kecuali sikat gigi. Sumber.

Sama-sama berjuang demi rakyat, yang menyapu dari akar rumput. Sosok Syahrir akhirnya sangat berjodoh dengan Bung Karno yang kala itu sangat dicintai masyarakat Indonesia. 

Ada fakta lagi yang lucu yang saya temukan, seperti yang kita ketahui bersama bahwa sebenarnya Bung karno adalah Nasionalis yang Sosialis! Betulkan Bro ?? Nah disini terlihat keplinplan-nannya Bung karno sebagai Nasionalais Sosialis.

Tulisan-tulisan Syahrir dalam "Perjuangan Kita", membuatnya tampak berseberangan dan menyerang Soekarno. Jika Soekarno amat terobsesi pada persatuan dan kesatuan, Syahrir justru menulis, "Tiap persatuan hanya akan bersifat taktis, temporer, dan karena itu insidental. Usaha-usaha untuk menyatukan secara paksa, hanya menghasilkan anak banci. Persatuan semacam itu akan terasa sakit, tersesat, dan merusak pergerakan."

Syahrir,Bung Karno, Bung Hatta 

Dan dia mengecam Soekarno. "Nasionalisme yang Soekarno bangun di atas solidaritas hierarkis, feodalistis: sebenarnya adalah fasisme, musuh terbesar kemajuan dunia dan rakyat kita." Dia juga mengejek gaya agitasi massa Soekarno yang menurutnya tak membawa kejernihan.

Dalam hal ini saya sepakat dengan Syahrir, yang intinya adalah Persatuan dan Kesatuan hanya boleh dipaksa oleh suara seruan, ajakan, penyemangat dsb! Tapi haram hukumnya bila Persatuan dan Kesatuan dipaksa oleh sebuah pergerakan fisik apalagi agresi! Karena ciri dasar dari demokrasi adalah kebebasan! 

Ada keywoard yang terlupa dari ini semua, yakni keyakinan. Serahkan kepada keyakinan, ini bukan pasrah namun justru sebaliknya. Telah kita ketahui bersama, setiap manusia mempunyai kekuatan jika bersumber dari keyakinan!


Dari kehebatan Ini semua, saya menyimpulkan bahwa Syahrir adalah yang pertama dan yang terakhir untuk Indonesia Raya. 

Ada banyak pertanyaan yang tidak pernah dijawab Syahrir dari rakyat Indonesia salah satunya seperti  peristiwa diplomasi itu, yang seolah menyepelekan persatuan dan kesatuan NKRI. Yak itulah ciri utama Syahrir, tidak ingin memaksa! Entahlah seperti yang saya urai diatas, saya pribadi dapat menyelami apa yang ingin diperbuat Syahrir. Bagaimana dengan Anda? 

Sekian dan Terimakasih
SUMBER
Foto Hot Madam De Syuga Kemungkinan Propaganda Jepang!

0 komentar:

Posting Komentar