Quantcast

Sabtu, 10 Desember 2011

Pahlawan Yang Menulis Sastra


Di Bawah Lindungan Ka'bah dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck adalah dua dari karya sastra hebat dari Pahlawan ini. Kefasihannya terbentang dari filsafat, sejarah, sosiologi, politik, baik Islam maupun Barat serta sastra itu sendiri.
Sastra merupakan takdir hidupnya. Sastranya menyelingi alur kehidupannya yang pernah ikut berjuang mempertahankan kemerdekan dari tangan penjajah, dengan mengalami berbagai latar seperti : sengsara, kedukaan, airmata dan penderitaan.

“…Saya merasa bahwa saya sanggup memberimu bahagia pada tiap-tiap saat hidupmu, yang tiada seorang perempuan agaknya yang sanggup menandingi saya di dalam alam ini dalam kesetiaan memegangnya, sebab sudah lebih dahulu digiling oleh sengsara dan kedukaan, dipupuk dengan air mata dan penderitaan…” 
 
Sastra pujangga besar dari Timur Tengah Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-Aqqad, Mustafa al-Manfaluti, dan Hussain Haikal serta karya ilmiah para jago dari Perancis, Inggris dan Jerman seperti Albert Camus, William James, Sigmund Freud, Arnold Toynbee, Jean Paul Sartre, Karl Marx, dan Pierre Loti. Menjadi saksi sekaligus pembuka jalan akan datangnya sebuah karya besarnya, Tafsir al-Azhar yang ditulisnya didalam sel jeruji penjara.
Langkah awalnya adalah mengajar anak bangsa, hingga menciptakan fatwa bagi umat.

Lalu gebrakan kepahlawanan selanjutnya adalah menentang usaha kembalinya penjajah Belanda ke Indonesia melalui pidato serta ikut menyertai kegiatan gerilya di dalam hutan.
Guru agama biasa-biasa sampai menjadi dosen dan rektor, lalu masuk kedunia pemerintahan berawal dari menjadi pegawai negeri sipil yang menjabat sebagai Pegawai Tinggi Agama hingga berseberangan dengan Presiden Sukarno, pernah terlukis dalam jejak-jejak hidupnya.
Kegiatannya selain berkutat dilingkungan Masjid, juga mulai merambah memasuki dunia Politik. 

Bermula dari organisasi Masyumi, Muhammadiyah sampai dengan Sarekat Islam.  HOS Tjokroaminoto, Raden Mas Soerjopranoto, H. Fachrudin, AR Sutan Mansur, dan Ki Bagus Hadikusumo adalah beberapa sahabat yang dijadikan penukar ide dari buah fikirannya. Tidaklah heran, jika di Republik ini beliau disebut ulama yang sangat paham “hidup di luar masjid”.

Hari selasa kemarin, (8/11), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Istana Negara, memberikan gelar pahlawan nasional kepada tujuh putra terbaik bangsa yang dianggap berjasa kepada negara melalui Surat Keputusan Presiden No 113/TK/2011.
....Dan namamu ada diantara nama nama itu.......

Wahai “ulama yang tidak bisa dibeli“, Kini jelaslah sudah bahwa dirimu pahlawan yang menulis sastra.

Selamat Hari Pahlawan
Bogor, 10 November 2011

0 komentar:

Posting Komentar