Quantcast

Sabtu, 24 Desember 2011


Namanya Ruhmini, Asli peranakan Kendal. Kisahnya tak pernah diselingi senyuman bahagia. Semenjak lahir azab sakit-sakitan telah menemaninya. Mungkin akibat getir itulah, sang Ayah telah mengganti namanya hingga 7 kali, tampa bubur merah.

Konon menurut cerita masyarakat sekitar, dahulu diusia 14 tahun, Ruhmini pernah mengalami mati suri. Rohnya melayang hingga 27 jam. Kafan telah membungkus tubuh sintalnya, namun dimenit yang ke-1620 itu, Tuhan kembali mengembalikan kehidupannya.

Kini dia hanya selalu senang melamun. Harinya-harinya minim candaan. Jika ku tannya, jawabannya “ jiwaku telah mati 13 tahun yang lalu”.

Sungguh ini membuatku tertegun. Dengan semua suratan takdir ini, tak salah-lah sang Ayah mengganti namanya menjadi Ruhmini. Bagiku, Ruhmini memang ruhnya mini.

Hampa kelihatannya. Walau ayat-ayat suci Alquran sangat merdu jika terbacakan. Yak, informasi tambahannya Rumini adalah jebolan siswi madrasah. Tajwid telah dikhatamkan sehingga mudah untuk melantunkan pengajian.

Disebuah pergulatan malam, dimana masa bintang dan kesunyian merajai, Aku pernah meyaksikan Ruhmini sedang masturbasi dikamarnya. Aku melihatnya jelas, sebab tirai jendelanya tersingkap genitnya angin.

Matanya terpejam, mulutnya menganga. Ahh, kadang erangan mendesis membahana lirih seantero kamar itu. Darahku panas melihat adegan ini, dengan jari tengahnya dia menusuk liang kemaluannya itu. 

Tuhan..... tolong ampuni dia dan aku. Ampuni dia karena dia mahluk-mu yang tetap mempunyai fitrah akan kebutuhan itu. Ahh, dan ampuni aku karena telah mengintip adegan prifasi Ruhmini.

Yak’ itulah terakhir aku melihat dia, karena setelah itu dikabarkan dirinya telah meninggal dunia.
Tidak ada yang tahu kecuali aku, namun kini biarlah semua rahasia itu terbagi. Setidaknya, mungkin bisa dijadikan rasa untuk menumbuhkan simpatik untuk si Ruhmini yang getir.  Dahulu, kala itu, aku pernah menemukan secarik kertas dibawah sajadah karpet sholatnya. Ruhmini menulis;

Dimana kawanku, dimana kalian berada?
Tuhan telah menciptakan kita untuk saling menyapa, tapi tidak ada sapaan sama sekali untukku.
Pagi ini terasa perih untukku. Apakah kalian ingin ku bagi?  Ah, sudahlah Ruhmini. Mereka tidak ada! mereka tidak mendengar! Tak mungkin untuk berbagi! 

Ehmmmm,

Lalu untuk apa aku di ciptakan? Dan untuk apa pula kata-kata itu ada, jika sama sekali tidak ada kata ‘hai’ untukku!. 

Ah, laknat sekali dunia ini!

Ada banyak kata dalam dunia ini.
Dari Seribu Kata, Aku Merindukan “Apa Yang Bisa Aku Bantu?”

3 komentar:

Anonim mengatakan... ( Reply)

really sad story

Mbah Nekat mengatakan... ( Reply)

wkwkwkwkk, iyya nih...
kalo baca ini jadi sedih...
hihi, salam kenal bro anonim,
txs sudi mampir.

zia mengatakan... ( Reply)

bagus bngt gan kata2nya

Posting Komentar