Quantcast

Selasa, 01 November 2011

Tolong Di Makan Tuhan, Sastra Ini Untuk Mu


Colokin bang…, Obral nikmat, Gadis binal, Udah nggak tahan nih, kita lakukan sekarang yuk…!, Janda-janda kaya mencari laki-laki perkasa yang tahan 24 jam, Kencan semalam atau cari simpanan, Mainan lelaki, Main yuk…! Main apa aja deh, yang penting bisa bikin Tina berkeringat…


Itu sastra sekarang, sastra dahulu ;
Suatu kali Mpu Tantular menulis dalam kakawin Arjuna Wijaya sebagai berikut: Ada balai di bawah naungan priyaka berkembang mekar di tepi karang-gantung; Di situlah sang Putri menahan duka dengan seorang hambanya yang membawa bunga; Barangkali diam-diam dia telah dikirimi sepah sirih oleh Baginda; Sehingga timbul birahinya, yang dicurahkannya dalam bentuk kekawin berhiaskan tangis. “Ah, kau yang telah datang dalam impianku, yang telah memangku dan memeluk pinggangku sambil membuka kainku; Kau yang pandai mengambil hati, yang arif akan isyarat, bagaikan kumbang mendekat karena kembang semerbak; Kurasa seakan bukan hanya dalam impian ketika kaubawa daku ke pantai di balik karang-gajah; Tapi baru saja aku menurutkan kasihmu, han siang, dan ketika aku terbangun, kau pun lenyap”. “Ah, kau yang selalu mengirimi aku palambang yang indah, bosan aku pada janjimu yang tak kunjung datang; Terbayang-bayang aku akan tingkahmu di dalam impianku, ketika segala kehendakku akan terpenuhi; Tapi betapa mungkin sulur gadung yang menggapai ke angkasa dapat membelit bulan?; Demikianlah hasratku bermesraan dengan dikau”.
Achh….

”Perempuan itu tersenyum dan menjawab pernyataan tadi dengan kecupan di kedua mata, meluncur perlahan ke hidung, terus meluncur melewati bibir hingga leher, terus dan terus menyeret kepalanya hingga sampai di selangkang yang mulai mendidih. Membuatnya merintih. Membuat tiap inci tubuhnya memohon lebih dan lebih”. Ranjang Karya : Djenar Mahesa Ayu.

Diceritakan seorang anak bernama Merdeka sedang mengetes bagian tubuh ayahnya yang sudah meninggal. Merdeka merasa berhak mewarisi apa saja yang dimiliki ayahnya. Ketika alat vital sang ayah dites, ternyata kondisinya masih “tokcer”. Merdeka, sebagai ahli waris ingin memanfaatkan milik sang ayah yang masih “tokcer” itu. Dengan bantuan seorang dokter dipasanglah alat vital dari sang ayah itu di kepalanya. “Merdeka” karya : Putu Wijaya.
“…Tetapi membiarkan lelaki masturbasi dengan payudara kita bukanlah pengalaman yang menyenangkan kalau terus-terusan. Tetek bukan diciptakan untuk…”. “Larung” karya : Ayu Utami

“Aku dekati celana dalam itu, dan ku ajukan beberapa pertanyaan yang mendebarkan hati….. : “Hai kancut, gimana aromanya ? harum tidak ?,” tanyaku. “Hii hiii harummmm sekaliii, bak aroma bunga melati dipagi hari,” jawab celana dalam. Aku semakin bernafsu untuk melanjutkan pertayaan berikutnya. Lalu kembali kudekati celana dalam Lulu Tobing  itu, dan kembali kuberikan pertanyaan pamungkas yang sekaligus peryataan untuk menutup cerita fiksiku kali ini.

“Lebatkah bulunya ?, “ tanyaku, dengan jantung yang semakin berdebar.
“Iyak………… ,” jawab celana dalam itu dengan singkat.
Celoteh Celana Dalam Lulu Tobing”, Karya : Selamat Malam.

Itu sastra sekarang, sastra dahulu ;

Monaguna di dalam kakawin Sumanasantaka : “O, kau yang nampak bagaikan gunung, aku kan bertapa padamu selalu; Aku kan bermukim pada kecantikanmu, tempat birahiku kan terangsang; Semoga tercapai kesempurnaan tapaku di tempat tidur, menyusupi kainmu yang semerbak; Dan alangkah bahagiaku, dindaku, bila ku turun sampai ke bawah pinggang-mu”.

Terimakasih Tuhan, Kutunggu Ijabahmu tentang Hak Imunitasku, tentang apa yang dikatakan sebagai Pornografi.


No sex, SARA, politic, 18+ only!
Oooh…! Sakit tauk…! Tapi, enak juga sich…!

0 komentar:

Posting Komentar