Quantcast

Kamis, 01 September 2011

Selamat Malam Lukisan Spanduk Film


Selamat malam lukisan spanduk film, kamu sudah kuno!
Begitulah judul tulisan ini, gueh ulang dengan menambahkan tanda koma dan kalimat kamu sudah kuno.

Malam itu gueh mabuk minuman keras, gueh membelinya disebuah Toko yang berdekatan dengan …..mart (supermarket kecil, Red). Sedangkan diujung jalan besar dua lintas itu, terdapat sebuah pasar tradisional. Tepat disamping kirinya berdiri kumuh sebuah bioskop tua bernama Citra Theater. Kata citra mengigatkan gueh akan piala bergensi itu. Sebuah piala yang menurut gueh pribadi hanya racun jahat yang dapat membunuh kreatifitas anak bangsa yang cinta mati dengan idialisme.

Gueh berjalan gontai, menandakan alkohol itu telah mengurai dunia gueh. Bukan kebetulan, atau kutukan semata karena gueh meminum minuman yang harom!. Yap, seketika saat itu juga hujan deras turun dimulai dengan rintik kecil. Gueh berlari mencari tempat berteduh, hmmm tak ada, hanya ada sluar dari besi berdiameter hanya tak kurang 5 centimeter.

Uhhh, emang dasar mabuk! Benar kata orang-orang! Mabuk itu membuat kita lupa dan membuahkan kebodohan. Hik Hik, suerr... malem itu gueh mabuk berat, sehingga gueh bodoh! sangat bodoh!. Emmm, mana mungkin gueh berteduh dibawah pipa besi yang hanya berdiameter kurang lebih 5 centimeter itu.

Hadeh gueh cuek ‘aja, wong namanya juga mabuk!. Gueha duduk dibawah sluar itu, dengan kedua kaki gueh lipat kedepan. Tak terasa, tubuh ini semakin basah di guyur air hujan, yang menetes dari lukisan “pacar ketinggalan kereta”.

##
Baiklah kembali lagi kelukisan spanduk film. Spanduk film sendiri adalah media yang merepresentasikan sebuah film yang akan diputar di bioskop, yang tentunya merupakan sebuah cara untuk mempromosikan film-film  tersebut.

Poster film terbagi menjadi dua jenis, yaitu poster besar berbahan spanduk untuk penempatan luar ruang dan poster berbahan art paper/karton, yang biasanya dipasang di dalam ruang tunggu bioskop. Selain itu, pada masa sekarang, saat teknologi percetakan semakin maju, tak jarang kita lihat deretan poster sebuah film, yang dicetak pada kertas art paper.

Secara umum, sebuah poster film biasanya berisi foto atau ilustrasi dengan teks. Sebelum tahun 1980-an, pada poster film ‘jadul’, gambar atau ilustrasi lebih umum digunakan ketimbang foto, meskipun banyak juga poster yang memadukan foto pemerannya dengan ilustrasi. Teks pada poster film biasanya berisi judul film yang diikuti nama-nama pemain utamanya. Selain itu juga ada lagi beberapa teks tambahan mulai dari tagline, nama sutradara, nama karakter, hingga tanggal rilis. Desain poster film ‘jadul’ memang terkesan lebih sederhana, namun memiliki keunikan tersendiri dengan ragam teknik pencitraan gambar yang artistik, pewarnaan yang kontras dan eye-catching.

Disamping berfungsi sebagai suatu media promosi dan identitas bagi sebuah film, poster film juga menjadi suatu bentuk produk desain grafis, dan akhirnya saat ini juga telah menjadi suatu bentuk karya seni.

Sebagai salah satu produk desain grafis, poster film juga mempunyai nilai estetika yang tinggi sehingga menjadikannya memiliki nilai tambah karena poster tersebut akan ‘menarik’ orang untuk melihat yang pada akhirnya membangun rasa ingin tahu dan bisa tetap melekat dalam ingatan orang yang melihatnya, sehingga secara tidak langsung juga akan membuat orang tetap mengingat film yang direpresentasikannya itu.

###
Bicara soal spanduk film bioskop, tidak terlepas dari bioskop itu sendiri. Begitu fenomenalnya Bioskop tanah air. Terutama era 60 hingga 70-an atau diera saya 80-an, hingga seolah tak memberi hak bagi anak muda dan bahkan tua untuk tidak menapakinya. Bioskop adalah tempat wajib dikunjungi saat itu, menjadi simbol prestise dikalangan anak muda, sama seperti mall dan kafe pada masa sekarang. Di bioskop itu pula, beragam film-film Indonesia yang fenomenal pernah diputar, seperti Badai Pasti Berlalu versi tahun 70-an, Gita Cinta di SMA, Catatan Si Boy ditahun 90-an, Gairah Nakal dan Film kolosal yang menurut saya sangat luar bisa pada saat itu, Saur Sepuh.

Namun waktu terus melaju, bisnis bioskop dan lukisan spanduk itu, seperti pagi yang mau tak mau harus beranjak menuju malam. Begitu pun kisah ini, sinar kejayaannya kini mulai memudar, beranjak menuju malamkala..

####
Perkembangan teknologi, mendorong kemajuan di bidang produk-produk advertising. Khususnya dalam percetakan yang berbasis digital yang dikenal dengan Digital Printing.
Digital printing dicetak menggunakan teknik digital yang dikembangkan untuk komputer seperti printer inkjet atau laser printer. Menyorot soal digital print dengan format besar telah menggeser keberadaan spanduk sablon apalagi spanduk lukis tangan.

Yap, ini diaa yang gueh maksud! tehnologi telah memaksa yang kuno untuk hengkang!. Hadehh, sedih gueh.... hii hii iii. Lalu gimana yak nasib para pelukis manual sablon film ?? 

Pada era 60 akhir 80-an, gambar promosi film-film di bioskop masih ramai dengan spanduk lukisan tangan. Sekarang posisi kejayaan lukis tangan tergerus dengan digital printing large format. Bahkan untuk order minimum, orang juga lebih memilih digital print daripada sablon.

Keistimewaan Digital Print Large Format
- Lebih atraktif dan colorfull
- Proses pengerjaannya cepat
- Prestise tinggi dan big impact
- Minimum order bisa
- Setiap cetak dapat berbeda, karena pelat cetak tidak diperlukan, seperti dalam metode sablon.

Pada awal keberadaan teknologi ini, produk digital printing seperti billboard atau reklame masih. terbatas digunakan untuk kampanye komersial produk dari perusahaan yang sudah mapan. Karena waktu itu harga teramat mahal untuk kebanyakan orang.

Diakhir tulisan ini, kembali gueh ingin menyapa lukisan spanduk film :
Selamat malam lukisan spanduk film…. Selamat bobok…..


0 komentar:

Posting Komentar