Menunggu adalah pekerjaan yang sangat meyebalkan,
kata si doi, menunggu “gak janjiii dechh..” hihi. Yak “gak janji” begitu
pula kataku. Pengalaman tunggu menunggu ini, saya beri judul penantian yang jijeni. Hah jijeni
macam mana pula, kata si Togar?, jawabku. Jijeni seperti kue lemang
yang berlendir, kue khas asal daerahnya (medan, red). Hah, macam apa
pula lemang kau sebut jijeni brother? Katanya, sambil garuk-garuk
pantat. Lalu kembali dia berucap “ Lemang biar berlendir, namun nikmat
brother. Bukannya yang berlendir-lendir itu memang nikmat?? Katanya,
dengan nada tinggi, seperti nada-nada pada lagu si Butet. (btw aniwey,
emang lagu Butet, bernada tinggi?? Ha ha, gak tau, dengerin aja
sendiri….).
Baiklah, berhenti sampai sini urek urek selebat
selebot tentang lemang, medan, Butet dan Si Togar. kini kita berlanjut
pada tulisan saya berikutnya, yang akan mempertemukan benang merah pada
cerita ini terhadap judul diatas itu.
Kutunggu Janda Mu Tamat, Comin Soon Kutunggu Jandamu atau Kubunuh Suamimu.
Berawal dari tetanggaku yang bernama mbak Rini. Yak aku memanggilnya dengan embel-embel mbak.
Karena usianya 6 tahun diatas saya. Mbak Rini adalah perempuan dengan
status istri dan ibu dari 2 anak. Suaminya adalah partisipan partai
politik biru muda. Dahulu suaminya adalah bendahara partai politik hijau
tua, setelah tersandung kasus uang receh, dia langsung mengambil sikap
oportunis. Dia putar haluan, dan sekarang mengkemudikan dapur umum
partai biru muda. Namun apes bagi sang suami tercinta, dia kembali
tersandung kasus terasi mambu, sehingga dunia ini bagai neraka
dirasakannya, situasinya menjadi panas sepanas nasi goreng campur
terong, menu special yang selalu dimasaknya didapur partai biru muda
itu.
Semua mata seakan memperhatikannya, seluruh
wartawan cetak dan televisi, menyorot prilakunya yang kian hari kian
jijeni. Tak ada lobang untuk menyembunyikan rasa malunya. Hingga dia
memutuskan untuk pensiun saja, dan coba meng-kaburkan diri agar blur seperti kasus yang pernah menimpa kawan sejawatnya dahulu dari partai bendera kuning , yakni Maria Eva.
Yak dari sinilah rasa kesal itu datang. Mbak Rini
akan di gowo mabur ke kota Sragen. Oleh sang suami koplaks kui. Hadehh
gimana tidak kesal brother, de’e sebenarnya telah mencuri hatiku secara diam-diam, atau dalam bahasa kamasutranya Chori Chori Cupke Cupke. Waka waka.
Selama ini Mbak Rini selalu ada disampingku, setiap
hari, setelah suaminya pergi bekerja, aku selalu ditemani olehnya dan 2
anak lucunya itu. Hari hariku selalu berjalan dengan indah. Setiap
detik, dirinya telah mensupport asa kedalam mobile aktifitasku. Terlebih
lagi de’e selalu memamerkan payudaranya yang, putih indah, gede, asoy
geboy dan menantang itu. Achhh sungguh menggairahkan brother……
Sudahlah, ini semua memang harus diselesaikan!. Aku tidak mau terus-terusan menunggu seperti ini.
hari ini demi kestabilan hasrat yang kian melebar ini, aku ganti take line Kutunggu Jandamu, menjadi Kutunggu Janda Mu atau Kubunuh Suamimu.
RSS Feed
Twitter









0 komentar:
Poskan Komentar