Quantcast

Jumat, 25 November 2005


Dahulu ketika waktu senggang dikala kuliah, saya memilih job sebagai Artis. Saya pernah bermain film layar lebar sebagai temannya Luna Maya, dalam ’30 hari mencari cinta’, saya pernah pula menjadi model dalam video klip Sheila On 7 dan Kahitna. Ha ha ha, tapi yang lebih sering dan menyenangkan adalah pengalaman saya dalam membintangi sebuah iklan televisi. softener So Klin, spaghetti La Fonte, Kacang Garuda, dan Softex.
Dulu saya pernah bercita-cita jadi pramugari. Ingin jadi sekretaris juga pernah. Tapi akhirnya saya benar-benar tertarik ingin jadi pengacara.

Sangat kebetulan,  Ayah saya wiraswasta, ibu saya seorang in house lawyer. Di setiap perbincangan keluarga kala remang, ibu sering membahas masalah hukum. Dan tentunya hingga sampai saat ini, akhirnya saya sering ber-konsultasi masalah hukum dengannya. Ha ha ha, ini fakta ternyata benar kata pepatah, “ buah dada tidak akan berpaling jauh dari kutangnya” atau bak pepatah Original Indonesia yang mengatakan “ buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya.” (Fakta by penulis, red)

Saat ini saya dihadapkan dengan sebuah kasus hukum pidana yang sarat akan muatan politiknya. Dan ibuku sering me-wanti-wanti saya, agar jangan mau untuk digiring kearah sana.

Gak tau kenapa saya lebih senang menangani kasus pidana daripada perdata. Dunia pidana terkenal lebih keras, jadi lebih menantang buat saya. Lebih fun. Di kantor saya, setiap pengacara dikasih kesempatan untuk mencoba semua. Saya pernah diminta bekerja di bagian pendapat hukum, dan itu bekerja di kantor saja. Saya merasa kurang fun. Saya lebih suka keluar kantor, ketemu banyak orang. Rasanya lebih cocok dengan jiwa saya. Kalau di kantor hanya ngetik-ngetik, saya bosan … hahaha.

Saat ini, Saya sedang kuliah S3 hukum lagi di Universitas Padjajaran. Kuliah sudah selesai, tinggal menulis thesis. Disana, saya mengambil hukum pidana. Yak, dengan alibi itulah yang membuat saya berhenti dari duania keartisan. Selain karena memang sekarang saya sudah menikah dan mempunyai anak. Dan jika ingin di bold, sebaiknya bold kalimat saya yang ini = Menjadi Artis banyak mengandalkan imajinasi. Saya kira saya tidak punya bakat untuk itu. Sungguh saya tidak bisa.

Lalu jika Anda bertanya Bagaimana bisa bergabung dengan firma OC Kaligis?
Jawaban saya adalah : Saya pertama ketemu Pak Kaligis pada tahun 2007. Saya datang ke Beliau dengan mengirim aplikasi, setelah lulus S2 di Program MM UGM di Gondangdia, Jakarta. Saya melihat Beliau seorang pengacara besar. Maka, saya memberanikan diri untuk datang. Saya mulai bekerja di kantor Pak OC sejak tahun 2007.


Setelah saya bergabung dengannya, kali ini saya ditunjuk langsung oleh OC Kaligis untuk mendampingi Nazaruddin. Beliau biasanya menunjuk beberapa orang untuk memegang satu perkara. Btw Aniway, sebenarnya, saya sudah ditunjuk langsung olehnya untuk memegang kasus ini sejak bulan Juni yang lalu, sebelum kasus ini heboh seperti saat ini.
Saya tidak menyangka kasus ini akan menjadi besar, tiba-tiba menjadi seperti ini.
Saya harus bekerja ekstra, karena selain soal menyiapkan pembelaan dan paper work, saya juga harus meng-counter pendapat publik yang menyudutkan dan tidak sesuai dengan fakta. Ha ha ha inilah tugas utama saya sebagai kuasa hukum, dan tentunya saya harus memberikan keterangan ke media tentang apa yang menjadi fakta fakta kebenaran.
Saat ini banyak yang bertanya kepada saya. ‘Mbak, Pak Nazar apa kabar?’ Saya bilang, ‘Baik, nanti saya sampaikan salamnya.’ (kd)

Tamat

Ha ha ha siapakah dia ??
Dia adalah Dea Tunggaesti, pengacara kelahiran Solo, 26 September 1982, yang kini melejit ke angkasa. Wajahnya mendadak sering muncul di layar televisi. Penampilannya ramai diperbincangkan di media sosial.
Maklum saja, selain kecantikannya, mantan model dan bintang film ini sedang ditugasi bosnya, pengacara kawakan OC Kaligis, untuk mendampingi klien kakap yang sedang menggegerkan jagat politik Republik: mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin, yang kini sedang dijerat berbagai kasus korupsi kakap.

Selesai,
 
Agus Yulianto, dari berbagai sumber, 2 September 2011, Bogor 9:25 AM;

0 komentar:

Posting Komentar