Jumat, 25 Maret 2011

Aku Menikahimu dengan Sederhana


Segala  puji bagi Allah yang Agung keterpujian-Nya, dan suci nama-namanya-Nya. Dialah yang mengangkat dan meninggikan kedudukan pernikahan. Dengan menghalalkan pernikahan, Dia hendak menegakkan agama. Dengan pernikahan, Dia menjadikan kelestarian hidup, memakmurkan bumi, dan memperbanyak jumlah hamba.

Malam itu setelah semuanya menjadi hening, kamu berkata lirih ditelingaku Mas, kapan kamu akan melamarku”? Aku tak bisa menjawab, Ahh”… Aku palingkan wajahku, kubuang pandangan mataku yang kosong kearah depan rumahmu itu. Disana kulihat ada lapangan sepak bola anak-anak kampung, dimana kalau petang aku yakin, lapangan itu pasti ramai dikunjungi anak-anak kampung disini, yak minimal digunakan untuk tongkrong, diskusi sambil menyaksikan teman-teman lain memainkan olahraga sepak bola, ala kampung.


Malam itu kebetulan terang benderang disinari cahaya rembulan. Aku menggandeng tangannya, dan mengajaknya pergi menuju lapangan itu. Diujung sebelah kiri gawang yang terbuat dari pohon bambu kuning itu, lima langkah kekiri, berdiri rindang pohon Akasia tua yang sudah jarang daunnya .

Dibawah pohon itu aku membuka pembicaraan Dinda, baiklah jika kau ingin aku segera menikahimu, besok malam aku akan membawa orang tuaku, untuk melamarmu. Antara bahagia dan kaget Ratmi menatap wajah Bejo, Lalu apakah kang mas sudah mempunyai uang untuk semua ini?.

Bejo menjawab dengan mantap Aku hanya punya 5, juta. Aku rasa itu cukup. 1 juta untuk penghulu, 2 juta untuk makan-makannya dan 2 juta lagi akan kuberikan kepada orang tuamu, Hmm… terserah akan dipakai untuk apa saja, yahh itung itung itu pemberian dari saya, untuk orang tuamu. Laludengan mahar apa kang mas akan menikahiku”? Tanya Ratmi. “Baiklah, aku akan memberikanmu seperangkat alat sholat dan cincin emas 2 gram”. Jawab Bejo singkat sambil menundukkan kepalanya.

Ratmi terseyum bahagia, wajahnya tampak berseri-seri diterpa cahaya putih rembulan malam. Dengan jemarinya, Ratmi menegadahkan dagu Bejo, ditatapnya mata Bejo yang entah kenapa saat  itu berkaca-kaca, lalu dengan perlahan, Ratmi meraih tangan kanan Bejo, dikecupnya tangan itu dengan lembutnya.

Bejo menggandeng tangan Ratmi untuk meninggalkan lapangan itu. Malam itu, rembulan itu dan pohon akasia tua itu akan menjadi saksi ikrar mereka, sebuah ikrar suci untuk saling bersama dalam suka maupun duka.

Esok harinya Bejo bersama kedua orang tuanya, berkunjung menemui kedua orang tua Ratmi. Singkat cerita acara lamaran itu berjalan seperti apa yang dikehendaki. Dan memutuskan bahwa pernikahan itu akan berlangsung 2 minggu kedepan.

Setelah acara pertunangan itu dirasa selesai, keluarga Bejo, meminta untuk pamit. Sepulangnya Keluarga Bejo, Ratmi langsung membenahi meja tamu itu, setelah itu dia bergegas masuk kekamarnya. Tak selang berapa lama, pintu kamar Ratmi diketuk dari luar. “Siapa….”?, teriak Ratmi dari dalam kamar. Ini ibu Ratmi, bolehkah ibu masuk”?, “Iya ibu, tidak Ratmi kunci”.
Sesampainya dikamar, Ibunda Ratmi memeluk tubuh anak gadisnya, anak gadis yang 2 minggu kedepan akan meninggalkannya untuk sebuah kehidupan yang baru bersama suami tercintanya.


“Ratmi, anakku, ibu hanya ingin berpesan padamu…, “Apa iBu”? kata Ratmi, sambil menatap sendu wajah keibuan bundanya itu. Setelah kau resmi menjadi istrinya, Perhatikan mata dan hidungnya. Jangan sampai matanya melihat suatu keburukan darimu, dan jangan sampai mencium darimu kecuali aroma yang paling harum. Kamu merupakan tempat peraduan yang dipilihnya untuk menentramkam jiwa nya, dan timbulkan selalu rasa Qona’ah pada dirimu dalam mengarungi kehidupan berumah tangga nanti”.

Hari yang ditunggu pun telah tiba, pernikahan itu berlangsung sangat sederhana diruang tengah disebuah mushola, yang tidak lebih hanya di hadiri dari 30 orang saja. Ada 2 orang saksi dan seorang wali dari pihak  mempelai perempuan, lalu adanya penghulu sebagai pemimpin Ijab Kabul pada pernikahan mereka itu.

Hari itu mereka resmi menjadi Suami-Istri, Semoga Allah SWT, selalu mengucurkan rasa kasih sayang-Nya pada keluarga tercinta itu.


"Dan diantara tanda-tanda kekuasan-Nya
ialah diciptakan-Nya untukmu pasangan hidup
dari jenismu sendiri supaya kamu
mendapat ketenangan hati dan dijadikan-Nya
kasih sayang diantara kamu.
Sesungguhnya yang demikian menjadi
tanda-tanda kebesaran-Nya
bagi orang-orang yang berfikir”.
Ar Rum 21



*Kaum wanita diciptakan untuk laki-laki,
 dan karena mereka pula kaum laki-laki diciptakan…

  Fiksi By : Agus Yulianto ditemani pohon Akasia;

0 komentar:

Poskan Komentar