Quantcast

Jumat, 25 Maret 2011



Saya melihatnya seperti itu, ini murni hipotesa saya tampa dibebani oleh hujan yang sedang menerpanya. Tadi siang saya melihatnya di televisi saat dia membuka Rakornas partai yang dibesarkannya dan membesarkannya, Demokrat.



Terlebih setelah saya memperhatikan rambutnya yang sudah banyak memutih. Dan ketika kamera para wartawan televisi itu memakai tehnik Very close-up dan berakhir dengan Extreme close-up, saya begitu jelas melihat raut wajah Sang Presiden yang sangat detail dilukis kamera televisi itu.

Guratan keriput sudah banyak mewarnai rautnya. Di sekitar dahi kerut-kerut fliker itu membuat garis horizontal yang tak beraturan. Lalu ini yang begitu kentara, saya jelas melihat dibawah tatapan kedua matanya yang sudah tidak garang seperti dahulu itu, kolagen kulitnya semakin berkurang. Ini membuat kulit kehilangan zat yang menjaga ikatan antar jaringan yang ada di dalam kulit. Alhasil, kulitnya semakin rapuh dan membuat pembuluh darah di bawahnya semakin menonjol hingga menciptakan lingkar hitam di bawah mata beliau.
Seiring berjalannya waktu, sudah banyak perubahan fisik yang terlihat dari Sang Presiden. Ini sangat berbeda saat sosoknya masih menjadi Menko Polsoskam saat Pemerintahan Presiden KH Abdurrahman Wahid atau bahkan saat dirinya sedang berseberangan dengan Presiden Megawati.

‘Jenderal yang Berfikir’ ini kini sudah mulai menua. Tadi siang saat membuka Rakornas itu, dia berkata Menghadapi badai politik ini, saya akan berdiri di depan dan bersama saudara semua untuk atasi ujian dan cobaan ini” sebuah kata-kata yang membakar semangat, namun kembali saya melihat ini hanya sebatas retotika belaka. Sepintas terlihat tegar, namun tidak!. Sungguh ini tidak bisa merubah keadaannya saat ini, terbukti ketika tepuk riuh seluruh kader sudah menghilang, kembali kamera meng- Extreme close-up dan saya melihat dari wajahnya sudah tidak ada cahaya yang banyak terpancar. Ini jelas Sang Presiden sudah kehilangan cahaya mutiaranya.

Melihat keadaannya saat ini, saya sebagai anak Bangsa jadi prihatin. Biar bagaimanapun dia adalah seorang yang sangat pemberani, karena disaat keadaan dimana sepak terjang seorang Presiden disorot ribuan mata, dia berani tampil dan bersedia menjadi presiden RI yang ke-6.

Kini diantara sejuta persoalan yang kau hadapi, disini saya tetap mendo’akan, semoga Bapak selalu sehat wal afiat. Semoga saja semua persoalan – persoalan itu dan persoalan yang membuat dirimu teramat malu ini cepat terselesaikan. Walau di dua pemilu terakhir saya tidak memilih Bapak, namun sampai kapanpun, bahkan sampai Bapak sudah tak kuasa melambaikan tangan dari dalam mobil hitam, saat melewati jalan Alternatif Cibubur, saya tetap menganggap Bapak ‘mutiara di atas lumpur’.

OPINI By : Agus Yulianto, Bogor 23 Juli. 7:15 PM

0 komentar:

Posting Komentar