Quantcast

Jumat, 25 Maret 2011

Gerimis di Prambanan


Kala senja terbangun dan mengusir siang yang menguasai matahari. Warna biru cerah langit itu terdegradasi menjadi abu-abu klasik. Menit itu kita berjanji akan bertemu, dipelataran candi itu dan akan ku saksikan ketidakrelaanmu atas semuanya ini. Prastri…..Aku menunggu, Aku menunggumu disini. Aku menunggu di Njanti….

Tak lama, mobil lama VW Beetle berwarna coklat mocca berhenti didepan candi, turun seorang Prastri yang saat itu diantar seorang supir pribadi keluarganya.

Prastri memakai baju blus yang dibuat dari perpaduan antara kain katun kotak-kotak kecil warna ungu dan putih dengan dipadu dengan kain katun warna putih yang berenda, yang menutupi bagian dada atasnya.

Dia dengan tenang menghampiriku, kami duduk dan bersander pada salah satu dinding candi yang ber-relief arca dewa Lokapala. Dia memegang erat kedua telapak tanganku.
Aku mulai membuka sebuah percakapan dengan menanyakan “apa kabarnya?”, yang dijawab dengan “baik”, katanya.

”Prastri bagaimana mungkin itu bisa terjadi?, mengapa kau tega menghianati cinta ini ??”
kataku, sambil menarik tangannku dari genggamannya.
Sebelum pertanyaan itu terjawab, dengan kedua tanganku itu, aku memegang pundakknya, dan menatap matanya yang mulai berkaca-kaca.
Kembali aku lontarkan sebuah pertanyaan “Ironis sekali, disaat aku berjuang dinegeri orang untuk mendapatkan gelar master untuk membahagiakan kamu kelak, namun disini kau  pencundangi aku dengan berbagi kasih dengan lelaki itu !“

”Prastri dia teman baikku, dari kecil kami selalu bersama. Tidak ada kisah suka maupun duka yang kami lewati tampa kebersamaan kami !”

”Dia teman sekaligus bapak bagiku, jika aku dihadapkan dengan masalah berat dalam hidup ini, beliaulah yang menghancurkan semua rintangan itu !”

”Dia adalah master bagiku, sehingga akupun pergi kenegri orang untuk melengkapi persahabatan kami dengan title masterku……”

”Kalian telah membunuhku ! kamu telah menyekutukanku ! Sumpah demi Tuhan yang telah memberikan ilmu kepada Bandung Bandawasa dan paras cantik kepada Rara Jonggrang, aku tidak akan memafkan kalian ! hari ini dengan disaksikan Prambanan , aku memutuskan bahwa percintaan kita selesai !....... “

Prasti terdiam kaku, tidak ada kata yang keluar dari bibirnya saat itu, selalin kata “baik” diawal pertemuan itu. Matanya semakin berkaca-kaca.


Udara disekitar tiba-tiba sejuk, dan tak selang berapa lama rintik rintik hujan membasahi prambanan.

Bersamaan dengan gerimis itu, Prastripun menangis sejadi-jadinya. Air matanya sudah tak dapat dibendung lagi, badannya terguncang hebat. Saat itu dia merasakan dadanya seperti ditindih sebuah batu besar. Semakin deras air mata itu, semakin dia merasa berdosa akan penghiatan itu.

Aku berdiri dan bergegas meninggalkan Prastri.

Prastri tidak dapat berbuat apa-apa, dia menyusulku dengan berlari melewati kompleks candi perwara. Namun dia tidak menemukanku.
Prambanan masih gerimis, kembali Prastri tidak bisa berbuat apa-apa, dia terduduk lesu. Wajahnya yang diterpa rinai hujan mengadah keatas langit, dia berucap dengan lirih…

Maafkan aku kang mas……..


Fiksi By : Agus Yulianto





0 komentar:

Posting Komentar