Quantcast

Jumat, 25 Maret 2011

Arkin, Tas Gembloknya Berisi Dosa


"Nama siangku Ririn Rahmayu, tapi jika remang panggil aku dengan nama Arkin Rihmayu" (rihmayu, jika dipanjangkan : rintihan yang kemayu), begitulah kira-kira sepenggal adengan dengan judul indentitas.

Arkin menggoda, berjalan dengan sedikit meng-geolkan pantatnya yang bohay, aduhhh suatu pemandangan yang mempesona. Malam itu dia memakai jeans ketat merek Favo, dan gambar kudanya itu seakan memberi interpretasi bahwa si pemakai liar dan binal bak kuda sumbawa, wek wek wek (red, penulis ketawa). Sedangkan atasannya blues cokelat muda, dengan sedikit renda disekitar lingkar leher dadanya yang agak doyong sangat kebawah, mempertontonkan payudaranya dengan angka 36, putih menyilaukan.

Arkin sangat indah untuk dimakan mentah-mentah, apalagi jika dipanaskan dahulu dengan cumbuan ala manusia dari negeri Francis Blue, hmmm mungkin akan heboh efeknya. Arkin bergelut dengan dosa hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia, yakni pangan ! sandang ! dan papan ! Bolehkah Arkin seperti itu ? Hemmm boleh saja, itu hak Arkin alias Ririn Rahmayu.

Hidupnya selalu bahagia, karena langganannya adalah anggota-anggota DPR kita yang sompret, hadehh koq bisa yak, orang yang diamanatkan sejuta inspirasi wajar, dari rakyat yang memilihnya menjadi koplaks seperti itu ? Hmmm, memang tidak semua sik para anggota itu sing koplaks....  Kalau saya hitung paling ada satu, dua, tiga.... ehhh salah ding, emmm ada 367 orang dingg...... wek wek wek (red, penulis ketawa lagi).

Pokoke secara jasmani, seorang Arkin keren dehh, hidupnya dari rambut atas sampai rambut bawah, selalu termanjakan tangan-tangan salon. Suatu kala, Arkin pernah bertamu kerumahku dan mengutaran isi hatinya :
"Bahwa diantara keramaian, ririn katanya selalu merasa sepi. Airmatanya selalu membanjiri disetiap subuh-subuhnya. "Hidupnya hampa"....  Dia ingin mencari laki-laki yang benar-benar sayang,  dan mau menerima apa adanya akan dirinya. Dan yang sering di ucapkan berkali-kali.....  "Aku ingin taubat".....


-Bersambung-

Fiksi By : Agus Yulianto & Jablay Akrin (Di sudutnya sudut yang remang remang)

0 komentar:

Posting Komentar