Quantcast

Jumat, 25 Maret 2011


”Jangan mau jadi orang biasa biasa saja. Kita mesti menjadi orang nomor satu.” begitu yang selalu dikatakan majikan saya, Tuan Oei Tiong Ham. Dan hebatnya kata-kata itu seolah terpatri dalam jiwa sanubariku, sehingga pelan namun pasti kata itu menjadi mantera peyemangat dalam kehidupan kesehari-hariaanku. 


 Tahoen 1892, hari minggu pagi ini, seperti biasa saya mengantarkan Tuan Oei Tiong Ham ke Batavia. Dan seperti hari-hari yang telah lalu kami berpisah di wilayah Mester Cornelis. Saya akan menantinya hingga petang diwilayah ini, hingga urusannya selesai dengan Penguasa Hindia Belanda kala itu. 
Dipasar Mester, Selepas bermain judi dengan Schout Van De’boosh, seorang komisaris polisi di Batavia. Tiba-tiba datang seorang lelaki gagah dengan baju dan celana komprang khas penduduk pribumi Batavia. Dan sekejap golok pendeknya sudah terhunus dan tertempel di leher saya.

“Bangsat koe antek-antek komponie !!!,  cepat tinggalkan daerah ini dan segera bawa tuanmu pergi dari sini !!!” Bentaknya, dengan tetap menghunuskan golok pendeknya dileherku.
Pantang bagiku diperlakukan seperti ini, dengan sedikit gerakan enteng, saya memutarkan badan dan sedikit melompat, saya hantamkan pukulan tangan kosong saya kearah badan lelaki itu.

Tak ayal, akhirnya kamipun berkelahi ditengah pasar Mester itu. Saya ikut mencabut golok dan dengan beberapa jurus silat yang saya miliki, saya sabetkan golokku kearah pemuda itu. Teryata dia bukan orang sembarangan, ilmu silatnya memang mumpuni, dia berhasil mengelak dari sabetan-sabetan golokku.

Hingga akhirnya tendangannya telak mengenai dada dan perutku. Braaakkkk, suara keras keluar dari hantaman itu, dan saya pun tersungkur kebelakang. Ingin rasanya saya membalas pukulannya itu, namun hari telah memasuki senja. Aku kebutkan pakaian dibagian perut dan dadaku yang kotor terkena debu, akibat ceplakan tendangan dari kaki pemuda itu. Aku selipkan golokku kepinggangku, sembari tetap menatap mata dari pemuda itu, sembari berkata “ kau hebat, suatu saat nanti kita akan bertemu lagi” setelah itu saya pergi meninggalkan dia.
Saya dan Tuan Oei Tiong Ham akan kembali menuju Semarang. Kami menaiki kapal laut, menyusuri laut pesisir jawa dari pelabuhan Tanjoeng Prioek. Dalam perjalanan itu, saya menceritakan tentang pemuda berbaju komprang yang tadi berkelahi denganku kepada Tuan Oei Tiong Ham. Dia hanya tersenyum, dan berkata “ Dia adalah Si Pitoeng, yang akoe pribadi akan meramalkan bahwa Batavia akan dibuat pusing oleh ulahnya….”. Aku hanya manggut-mangut mendengar penuturan majikanku, dalam hati saya pun berkata “…Betul Tuan, saya pun menyadari kalau dia orang hebat, terbukti dia tahu saya datang ke Batavia dengan Tuan, walaupun saat itu Tuan tidak bersama saya….”

---------
Saya perlahan mengendap-endap halaman belakang rumah besar itu, didepan kamar Oei Hui Tian saya berdiri mematung sejenak, sembari membaca aksara cina yang terukir indah didepan pintu berukir ukiran khas jepara itu. Saya sama sekali tidak bisa membaca aksara itu, namun saya segera paham akan apa yang dimaksud, karena dibawah aksara cina klasik itu tesirat huruf berbahasa melayu yang diukir lebih kecil dari aksara induk yang berbahasa cina itu.

“Mata yang mempesona oleh terang dan kabut,
Pada gairah, menyerah orang yang enggan.”
“Cabang pohon willow menari ditengah hari musim semi;
Bunga persik yang basah timbul tenggelam dakam ombak.”

“Jangan ragukan ikatanmu dengan dewa-dewi,
Penuhi takdirmu dengan pertemuan penuh kegembiraan,”
“Jelajahi alam semesta dalam mimpi-mimpi harum,
Aku menaiki bangau kuning, setelah tidur semalaman.”

Oei Hui Tian adalah puteri Tuan Oei Tiong Ham yang ke 38 dari keseluruhan anak yang berjumlah 42. Dia berasal dari gundik yang ke-15 dari keseluruhan gundik Tuan Oei Tiong Ham yang berjumlah 18 Orang.

Oei Hui Tian berumur 5 tahun lebih tua dari anak pertama Tuan Oei Tiong Ham, Tjong Lan yang berusia 8 tahun lebih tua dari Oei Hui lan. Gundik yang ke-15 itu teryata dahulunya dimasa remajanya pernah diperkosa oleh kawanan perampok pribumi, sehingga membuat perempuan naas itu mengandung sorang bayi.
Dan ini mungkin sebuah sejarah langka dimana kejantanan dihargai tinggi di kalangan orang Cina. Seorang pria Cina boleh memiliki gundik sebanyak yang ia mampu. Kadang kadang istri pertama mencarikan gundik bagi suaminya, dan lazimnya gundik-gundik itu masih perawan dan pastinya bukan yang sudah memiliki anak.
Nasibnya memang tidak seperti Oei Hui lan yang lahir Desember 1889 sebagai anak ke 2 dari isteri pertama Tuan Oei Tiong Ham, yang berlimpah kasih sayang dan tentunya harta dari sang Ayah, yang seorang pengusaha gula sukses dan termasuk orang terkaya di Asia Tenggara pada saat itu.
Namun tetap saja nama besar ayahnya telah membuat dirinya menjadi penduduk kota semarang yang sangat disegani oleh masyarakat setempat. Apalagi kalung yang berbandul intan 75 karat, pemberian sang Ayah, yang selalu dikenakannya saat bepergian keluar rumah, membuat semua orang mengangap Oei Hui Tian sebagai seorang putri raja.
Mataku meyusuri seluruh ruangan kamar eloknya, didepan ranjang beludrunya terdapat meja rias berukir motif batik yang ditengahnya terdapat cermin oval panjang berdiameter badan kerbau pembajak sawah. Ku hampiri dirinya yang setengah bugil terbaring menantang di pendarigannya itu. Kuusap bibirmu yang merah dengan bibirku yang coklat, ku hisap pelan putting susumu yang mencuat lalu kupeluk erat tubuh sintal putihmu yang cemerlang.

Ahhhh…, kamu mendesah berat dan kamipun berjalan meyusuri bunga-bunga persik yang timbul tenggelam dalam desahan gairah yang terlarang.

---------
Aku adalah centeng Bapakmu dan pemuas nafsumu, ku selalu sambut gembira takdir kecut ini dengan tarian-tarian bertiup seruling. Saya tidak tahu mengapa kau memperlakukanku seperti itu, bukankah sangat gampang bagimu untuk mendapatkan pasangan sah dari kaummu sendiri, seperti saudarimu Oei Hui lan yang kelak akan mengaet kaum jetset yang kebetulan tokoh revolusi RepubliK Rakyat Cina yang menjabat sebagai duta besar di Amerika Serikat.
Aku selalu berdiri di barisan paling depan, didepan musuh-musuh Bapakmu. Aku akan menjaga hasil kebun Bapakmu, kalau perlu siang dan malam tidak akan lepas dari pengawasanku. Lalu aku akan megawal Bapakmu kemanapun dia berkehendak. Namun jika remang telah menjalar aku wajib memasuki kamarmu dan meyerahlan upeti kejantananku sehingga bila subuh datang senyum bahagia harus tersungging diwajah cantikmu.

---------
Dalam waktu kerja setiap 2 minggu, saya mendapatkan jatah satu hari untuk pulang kerumah saya dan menemui istri tercintaku Lastri. Sesampainya digubuk sederhanaku di Lerep, sebuah desa berhawa sejuk di lereng Gunung Ungaran dengan ketinggian sekitar 400 meter di atas permukaan laut. Kujumpai Lastri sedang terbaring dikamar kecil kami. Ku kampiri dia, dan kurebahkan tubuhku disamping tubuhnya.
“Kau pulang kang mas…..” ucap Lastri, sembari tubuhnya bergeser sedikitpun dari posisinya sekarang, namun matanya tetap tidak bergeming sedikitpun dalam penatapannya menatap langit-langit gubuk kami. “Iyyaa… Lastri….” jawabku lirih, sembari memberikan sebuah kotak persegi sebesar topi kopyah hitam yang dipakai umat muslim kala itu untuk bersembahyang, yang saya bungkus dengan buntelan kain sarungku. Lastri bangkit dari terbaringnya, lalu membuka buntelan dan kotak hitam itu. Matanya menatap tajam kedalam kotak itu, dan dia melihat berbagai macam perhiasan dari kalung, gelang dan cincin yang terbuat dari emas dan perak unggul, serta beberapa uang lembar kertas dan uang receh yang cukup banyak. Namun tampaknya Lastri tidak begitu bahagia mendapatkan kotak yang berisi emas itu.
“Kang Mas….. buat apa ini semua, jika kau mendapatkannya dengan jalan yang dilarang Tuhan !!?“

Aku sama sekali tidak memperdulikan ocehan Lastri, aku membalikkan tubuhku dan segera tidur telah melelapkanku. Dalam lelapku itu aku bermimpi bertemu Tuan Oei Tiong Ham, yang berkata dengan lirih ditelingaku “”Jangan mau jadi orang biasa biasa saja. Kita mesti menjadi orang nomor satu.”

TAMAT
Fiksi By : Agus Yulianto

0 komentar:

Posting Komentar