Quantcast

Selasa, 17 Agustus 2010

Tuhan Menjadikan Aku Tuhan Dalam Sastra Itu

 

Aku bagai terbangun dari sebuah mimpi. Aneh sekali dan sepertinya aneh sekali. Harap bersabar, setelah tulisan ini berakhir, penilaian Anda: Bahwa hidup ini memang unik.

Baca fiksi ini, ada kehebatan disini. Harap bersabar, Aku mulai dari detik pertama.
Ini adalah cerita lama. Aku lahir di Kota Edinburgh, Skotlandia; 81 Tahun yang lalu. Ibuku adalah seorang tukang cuci sedangkan Ayahku seorang sopir truk. Tidak ada keistimewahan dari silsilah terkutuk ini, hanya ada kepasrahan dan dengus nafas panjang.

Aku memberontak akan keadaan ini. Aku ingin mengubah dunia, minimal membangun Taj Mahal untuk diriku sendiri. Pemberontakan ini tidak radikal, tidak pula tajam menghujam hatimu. Pemberontakan ini indah, pemberontakan ini penuh dengan senyum.

Aku bekerja sebagai pengantar susu keliling di Edinburgh. Karena ciri fisik tinggi dan kekar, gen special yang aku warisi dari Skotlandia, aku juga pernah merasuki dunia militer. Aku manjadi tentara walau akhirnya akupun hengkang karena tidak menemukan apa yang aku cari.
Dengan kepala tertunduk, pagi itu aku kembali menghadap pimpinan perusahaan susu, tempat dahulu aku bekerja. Dengan kemesraan dan keramahan, akhirnya aku kembali bekerja ditempat ini, namun kali kini aku menjadi sopir lori dan buruh kasar.

“Sir, sungguh terimalah aku kembali. Sungguh kamu tidak mengetahui apa-apa yang aku ketahui. Ketahuilah bahwa sesungguhnya aku mempunyai kunci, untuk berlari keluar dari Alcatraz”.

Sepulang bekerja aku menyisihkan waktuku untuk melelapkan sebuah mimpi yang terbangun. Sesekali aku menjadi model pada Sekolah Tinggi Seni. Dan beberapakali membuang keringat dengan menjadi binaraga amatir yang selalu tersingkir.

Akupun suka bermain sepak bola, Anda pasti terkejut. Kesebelasan Manchester United sangat kepincut dengan gaya permainanku. Sebuah gaji yang lumayan, tersodor dari tangan dingin sang maneger. “Hmm, maaf tuan” dengan lembut aku menolak tawaran tersebut. Sungguh jalanku ada di seni peran.
Dan hebatnya, dalam dunia politik aku pernah menyumbang suara yang terdengar sampai  keluar angkasa. Bagiku Skotlandia harus keluar dari bagian Kerajaan Inggris. Dan suaraku menggema seperti ini, 

“Intrik film mata-mataku, mengalahkan plot politik di Inggris Raya.”

Baiklah, kini sampailah kita pada penghujung dari tulisan ini. Klimaks dari kehebatan dalam tulisan kali ini, ada setelah paragraph ini, sesungguhnya setelah diksi kata “kata”.

Sastrawan hebat dari Inggris itu bertekuk lutut dibawah kharismaku. Karya sastra apiknya, yang cikal bakal dari lahirnya film tersukses di dunia sampai saat ini, itu, sequelnya mengadaptasi dari background aku dikehidupan nyata.

Sungguh Tuhan Maha Adil, keberadaanku di dunia nyata ini telah merubah bait-bait yang tersusun dalam sebuah karya sastra, yang sebelumnya telah terbundel dan kadung menjadi TradeMark.

Dedicated To : Sean  Connery
By; Agus Yulianto

0 komentar:

Posting Komentar